Mencari ‘Killer Apps’ BB10 Made in Indonesia


Jakarta – Ada sejumlah alasan mengapa Research In Motion begitu bersemangat menantang para developer lokal asal Indonesia untuk mengeluarkan kemampuan terbaiknya dalam waktu 40 jam nonstop untuk coding aplikasi di platform BlackBerry 10.

Produsen BlackBerry ini sadar, aplikasi akan menjadi kunci kesuksesan platform OS BB10 saat resmi dikomersilkan RIM di kuartal pertama 2013 nanti. Itu sebabnya, vendor asal Kanada ini begitu ngotot ingin mencari aplikasi terbaik yang akan didaulat menjadi “killer apps”.

Nah, untuk menghasilkan sejumlah “killer apps”, peranan para developer alias pengembang aplikasi jelas sangat penting. Tanpa mereka, rantai pasokan fitur value added services ini akan terputus.

Ini yang menjadi alasan RIM untuk terus mencari bibit-bibit developer andal di setiap negara, termasuk Indonesia–yang merupakan salah satu negara penyumbang pelanggan terbanyak BlackBerry. Maka, digelarlah ajang Hackaton BlackBerry Jamhack 2012.

Dari seratus lebih developer yang hadir di Mercantile, Jakarta, akan dipilih satu pemenang untuk mewakili Indonesia di babak yang lebih tinggi levelnya. Sang juara lokal akan bertanding dengan developer mancanegara untuk adu kebolehan di Bangkok, November nanti.

Namun terlepas dari kompetisi BlackBerry Jam di luar negeri nanti, para developer lokal yang ikut kompetisi coding 40 jam nonstop ini, tetap akan mendapatkan kesempatan untuk memasarkan aplikasinya di apps store BlackBerry App World.

Sejauh ini, menurut Joham Kremer, Head of Alliance Business Dev RIM for South East Asia, tiga besar aplikasi yang sering dipakai pengguna BlackBerry di Indonesia baru sebatas BBM (BlackBerry Messenger), Twitter, dan Facebook.

Kremer tentunya ingin ada aplikasi lain ‘made in Indonesia’ yang mampu menandingi tiga “killer apps” tersebut. Tak cuma mampu berbicara di dalam negeri saja, tapi juga dicari “killer apps” yang mendunia.

Memang, sudah cukup banyak aplikasi buatan lokal yang mulai digunakan pengguna BlackBerry di Indonesia, namun itu dirasa masih belum cukup. Apalagi jika aplikasi itu berbayar.

“Untuk aplikasi yang berbayar, pengguna di Indonesia baru menghabiskan Rp 6 ribu sampai Rp 10 ribu,” ungkapnya di sela acara coding nonstop 40 jam itu, di Mercantile, Jakarta.

Itu sebabnya, RIM tak henti-hentinya mendorong para developer agar mampu membuat aplikasi yang bisa membuat orang rela merogoh koceknya dan berlama-lama menggunakannya, karena aplikasi itu memang sangat bagus.

Dari ekosistem bisnis simbiosis mutualisme ini, developer diklaim oleh RIM akan mendapatkan banyak keuntungan bila membuat aplikasi di BlackBerry App World. Karena menurut Kremer, akan ada perubahan masif yang ditawarkan di toko aplikasi ini.

“Akan ada antarmuka yang jauh lebih menarik. Selain itu jumlah pengguna BlackBerry di Indonesia termasuk yang paling tinggi di Asia Pasifik,” pungkasnya.

Kremer sendiri sengaja mendatangi acara BlackBerry Jamhack di Jakarta demi mengawal pencarian “killer apps made in Indonesia” untuk BB10. Hingga berita ini diturunkan, kompetisi coding 40 jam nonstop masih terus berlangsung sejak tadi malam.dikutip dari http://www.detik.com

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: